Ruang Kesadaran Bagi Generasi Merdeka Belajar

Oleh Khoirunnisa Ajeng Lathifa

“… mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Pembukaan UUD RI tahun 1945 alenia 4.

“Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.”

UUD RI tahun 1945 pasal 31:1

Dari kutipan Pembukaan UUD tahun 1945 dan salah satu batang tubuhnya di atas, kita dapat mengetahui bahwa menciptakan bangsa yang cerdas merupakan tujuan dan cita-cita negara Indonesia, dan setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapat pendidikan. Menciptakan generasi yang cerdas dan berkualitas merupakan cita-cita bangsa Indonesia. Generasi yang cerdas dan berkualitas bisa tercipta dengan adanya program pendidikan yang berkualitas juga tentunya. Dalam menciptakan program pendidikan yang berkualitas dengan tujuan menciptakan generasi yang cerdas dan berkualitas, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menggulirkan kebijakan “Merdeka Belajar.”

Sebelumnya, Bapak Nadiem menyampaikan pidato pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019. Beliau (Mendikbud) mengatakan bahwa tugas guru adalah tugas mulia dan tersulit.

Bapak Nadiem juga memberikan pernyataan di akhir pidatonya. Beliau menyatakan, “Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti Saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.” (dikutip dari: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/11/pidato-mendikbud).

Program Merdeka Belajar ini diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak terlalu terikat pada kurikulum yang ada. Guru dan siswa bebas memilih metode pembelajaran yang sekiranya menunjang kemajuan siswa. Mendikbud juga berencana untuk mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi asesmen. Asesmen ini mempunyai tujuan untuk menciptakan generasi yang lebih kreatif dan inovatif. Target dalam asesmen ini adalah untuk menyentuh kemampuan kognitif dan karakter siswa. Dua materi tersebut tidak semua terdapat pada UN, mengingat UN hanya terpaku pada titik intelektual saja. Banyak siswa yang berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi di UN, padahal nilai UN yang tinggi belum tentu berpengaruh di masa depan mereka. Lalu bagaimana dengan siswa yang kurang mampu di bidang intelektual? Tidak sedikit dari mereka merasa dirinya tidak bisa apa-apa, padahal mereka mempunyai bakat lain yang bisa mengantarkan mereka pada kesuksesan. Begitu juga dengan para orang tua. Tidak sedikit juga orang tua yang menuntut anaknya agar bisa mendapat nilai UN tinggi. Mereka berusaha memasukkan anaknya di bimbingan belajar, menyuruh anaknya terus belajar tanpa henti. Hal itu tidak jarang membuat anak pusing dan stres yang berakibat anak kurang fokus dan merasa tertekan.

Dalam asesmen, setiap siswa diberikan refleksi, sehingga dari situ dapat diketahui sejauh mana jangkauan berpikir siswa tersebut. Selain itu, asesmen tidak hanya fokus pada intelektual, tetapi juga mengacu pada penerapan pendidikan karakter.

Saya sebagai siswa setuju akan kebijakan Merdeka Belajar oleh Bapak Menteri tersebut, karena memang penerapan pendidikan karakter itu sangat penting. Di sisi lain, kami generasi Indonesia harus mampu menjadi generasi yang cerdas, maju, terpelajar, berakhlak mulia, dan mampu berpikir secara logis dan kritis. Generasi Indonesia harus bisa menjadi generasi yang kuat dan mampu bersaing di bidangnya, serta menjadi generasi yang hebat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 nantinya. Selain itu, kebijakan Merdeka Belajar ini lebih bisa menuntun kami menjadi siswa yang lebih kreatif, karena proses pembelajaran dilakukan secara merdeka (bebas) sehingga guru dan siswa mampu berkolaborasi menciptakan kelas yang produktif dan menyenangkan.

Tetapi, mungkin kebijakan ini belum bisa diterapkan secara maksimal pada masa pandemi ini, karena pada masa pandemi siswa diharapkan untuk belajar dari rumah. Akibatnya, guru kesulitan untuk mengetahui kondisi murid-muridnya. Sebagai murid, tidak jarang kami kesulitan memahami materi yang disampaikan oleh Bapak/Ibu Guru, karena memang cara pemahaman setiap murid itu berbeda. Selain itu, bagi siswa baru seperti saya yang baru masuk di bangku SLTA, kami baru sebatas mengenal teman baru di dunia maya saja. Kegiatan MPLS pun hanya dilakukan secara daring, sehingga kami belum bisa mengenal lebih jauh dan juga belum banyak tahu tentang lingkungan sekolah. Belum lagi problematika lain yang menjadi kendala bagi lapisan masyarakat bawah. Dengan kondisi pandemi ini kegiatan PJJ sangatlah berat, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di wilayah lain dengan kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan geografis yang berat, juga fasilitas teknologi yang kurang.

Tetapi, walau berat dan penuh keterbatasan, semangat belajar harus kita sadari dan kita perjuangkan, karena itu merupakan suatu kewajiban dan menjadi tujuan untuk mencerdaskan bangsa terutama generasi saat ini dan selanjutnya. Seperti yang sudah diungkapkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Beliau mengungkapkan, “Setiap rumah adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru.” Hal tersebut senada dengan program Merdeka Belajar, karena salah satu tujuannya adalah menekankan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Jadi menurut saya, dimanapun kita berada dan dengan situasi apapun, belajar merupakan suatu kewajiban. Dengan fasilitas teknologi yang sangat maju dan mendukung seperti saat ini, informasi terkait dengan pembelajaran sangat mudah diakses.

Saya berharap, semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir, sehingga proses pembelajaran kembali normal dan program Merdeka Belajar benar-benar menjadi solusi bagi pelajar untuk menuju gerbang persaingan di masa depan pada era 4.0. Selain itu, program ini semestinya mengacu pada pendidikan karakter yang berorientasi pada generasi yang cerdas secara intelektual, emosi sosial, dan spiritual. Pendidikan karakter yang efektif tentu akan melahirkan generasi yang cerdas, maju, terpelajar, berakhlak mulia, dan mampu berpikir secara logis dan kritis.  Kualitas tersebut diharapkan dapat menciptakan generasi hebat, berdaya saing tinggi, dan mampu mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045 nantinya.

Khoirunnisa Ajeng Lathifa

Kelas X Teknik Elektronika Industri SMKN 2 Wonosari

Jati diri, prestasi, harmoni.