Refleksi Pembelajaran Daring: Simalakama Bagi Dunia SMK

Selama kurang lebih dua tahun kita menghadapi masa pandemi. Dunia belum memberikan pertanda pandemi ini akan berakhir. Angka penyebaran yang tidak stabil kadang turun setelah itu naik dengan drastis.

Keadaan ini tak urung membuat sistem pendidikan di Indonesia tidak sebaik seperti masa sebelum pandemi covid-19 melanda. Berbagai kebijakan telah diupayakan oleh pemerintah Indonesia untuk mempertahankan pendidikan yang berkualitas di Indonesia

Karena sistem pembelajaran Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Daring dinilai kurang efektif bagi sebagian masyarakat, pemerintah menggulirkan kebijakan untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas bagi beberapa sekolah yang sudah memenuhi persyaratan. PTM terbatas memang belum bisa dilaksanakan secara maksimal dan serentak. Akan tetapi, setidaknya keresahan masyarakat mengenai pendidikan bagi pelajar Indonesia di masa pandemi dengan sistem KBM Daring yang dinilai tidak efektif sedikit teratasi.

SMK N 2 Wonosari merupakan SMK Rujukan di Kabupaten Gunungkidul yang berdiri sejak tahun 1975. SMK N 2 Wonosari juga merupakan salah satu SMK Pusat Keunggulan, dengan kisaran jumlah siswa dan siswa lulusan yang cukup banyak.

Bapak Edy Novianto, S.Pd.T, M.Pd, salah satu guru Pengampu Jurusan Teknik Elektronika Industri SMK Negeri 2 Wonosari, yang juga merupakan wakil manajemen mutu SMKN 2 Wonosari, mengungkapkan pendapat terkait pelaksanaan PTM Terbatas.

“Saya kira Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas menjadi sangat penting khususnya bagi siswa SMK. Hal ini dikarenakan di SMK terdapat kompetensi-kompetensi yang bersifat keterampilan (skill) dan harus dilakukan melalui praktikum. Dalam melakukan praktikum terdapat hal yang sangat penting dan harus ada, yaitu alat dan bahan praktik. Sebagian besar program keahlian menggunakan peralatan dan bahan praktik yang ada disekolah serta tidak dimiliki setiap siswa di rumah, misalnya peralatan bengkel, peralatan mesin, alat-alat ukur dan sejenisnya. Proses pembimbingan selama praktikum juga tidak maksimal ketika siswa melakukan praktik mandiri di rumah.” Ungkap beliau dalam wawancara Senin, 16 Agustus 2021.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan yang memberikan pendidikan kejuruan bagi siswa siswinya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Bapak Edy Novianto, pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi pelajar SMK sangat dibutuhkan untuk mengasah keterampilan peserta didik. Karena pelajar SMK diharapkan dapat langsung terjun ke dunia kerja setelah mereka lulus.

Menurut Bapak Edy Novianto alokasi waktu pembelajaran dalam PTM Terbatas sangat pendek. Dengan muatan materi praktikum yang membutuhkan waktu lama, hal ini tentu tidak memadai. Guru harus membuat strategi khusus agar waktu yang pendek namun praktikum berjalan maksimal untuk semua siswa. 

Beliau juga mengungkapkan bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi baik bagi sekolah, tenaga pendidik, maupun para siswa. Sekolah harus tegas dalam pelaksanaan PTM Terbatas dengan memenuhi prasyarat-prasyarat yang harus dipenuhi yaitu sarana-prasarana dan prosedur penerapan protokol kesehatan, izin orang tua/wali siswa, tingkat vaksinasi guru dan siswa, serta izin dari Pemerintah Daerah atau Satgas Covid-19 di daerah. Sebagian siswa kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru karena keterbatasan atau karena belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem pembelajaran di masa pandemi walaupun sudah 2 tahun lamanya.

“Saya sebagai guru sangat prihatin terhadap kompetensi yang ditunjukkan siswa saat ketemu PTM Terbatas sangat kurang. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pembelajaran yang selama ini dilakukan melalui daring tidaklah cukup membuat semua siswa ‘belajar’. Karena berbagai kondisi, selama PJJ ada siswa yang harus berbagi HP dengan saudara dan orang tuanya. Karena kondisi, bekerja membantu orang tua selama jam belajar. Karena situasi, siswa harus ke balai desa, keluar kampung mencari sinyal, dsb. Hal-hal demikian membuat PTM Terbatas kurang maksimal.” Ungkap Bapak Edy tentang kesan beliau selama mengajar dengan sistem PTM Terbatas.

Sebagai media pembelajaran guru sudah menyiapkan materi yang perlu dipelajari siswa dalam bentuk file. Biasanya, materi-materi yang bersifat teori diberikan dalam belajar daring atau PJJ. Sementara  PTM Terbatas di SMK Negeri 2 Wonosari dilaksanakan untuk kegiatan praktikum. Langkah kerja praktikum atau job sheet yang akan dilakukan siswa sudah dibahas dalam pembelajaran daring sehingga dapat menghemat waktu saat pelaksanaan PTM Terbatas.

Pelaksanaan PTM Terbatas adalah solusi terbaik selama pembelajaran di masa pandemi dan dapat menjadi penawar rindu bagi dunia pendidikan khususnya bagi guru dan siswa. Sayangnya, metode PTM Terbatas di SMK Negeri 2 Wonosari belum bisa dilanjutkan karena kebijakan PPKM Jawa-Bali ditetapkan. 

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi dengan segala keterbatasan tidaklah mudah. Tidak hanya bagi siswa, tenaga pendidik juga mengalami kesulitan yang sama. Para guru dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran yang berlaku, mempersiapkan modul agar bisa diterima dengan baik oleh siswa, memanajemen waktu agar bisa mencapai target maksimal, bahkan meluangkan waktu diluar jam pelajaran untuk para siswa yang masih kesulitan dalam menyerap materi yang diberikan. 

Alangkah naifnya bila masih ada siswa yang tidak konsisten dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan tidak menyelesaikan kewajibannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bapak/Ibu Guru. Bukankah sebagai guru mereka mempunyai tanggung jawab sebagai orang tua bagi anak-anak mereka yang mungkin masih duduk di bangku sekolah seperti kita? Seharusnya kita sebagai siswa lebih bisa menghargai apa yang telah diupayakan oleh Bapak/Ibu Guru agar kita bisa mendapatkan hak kita dalam bidang pendidikan dengan maksimal.

“Pesan dan harapan saya kepada para siswa, tetaplah semangat belajar dan tetap berprestasi dalam kondisi apapun dan dimanapun. Kondisi pandemi dengan model belajar daring dan PTM Terbatas menjadi ujian kalian, seberapa besar motivasi diri kalian untuk belajar, jangan terlena. Hanya dengan motivasi diri yang kuat kalian bisa mempertahankan semangat itu, semangat untuk bersungguh-sungguh, karena kesuksesan dibangun dari kesungguhan,” pesan Bapak Edy Novianto kepada para siswa di akhir wawancara.

Kompetisi bagi siswa menjadi penting dewasa ini, mengingat setiap harinya mereka disuguhi ‘kompetisi’ melalui citra-citra media sosial. Contoh: Siswa tertarik game karena game adalah kompetisi. Semua remaja ingin menjadi keren dalam berbagai versi juga merupakan kompetisi. Arahan positif mengenai kompetisi positif semestinya menjadi muatan pendidikan bagi siswa di luar pembelajaran yang terpaku pada kurikulum. Peran guru, utamanya guru Bimbingan Konseling juga penting dalam melakukan pendekatan kepada siswa. Berbagai kendala, gejolak remaja, permasalahan keluarga tidak bisa dilepaskan dari permasalahan pembelajaran daring. Satuan pendidikan mestinya mampu menyentuh ranah itu terlepas dari berbagai tuntutan pendidikan dalam kerangka kurikulum. Sejatinya semua orang sepakat bahwa pendidikan semestinya bertujuan untuk memanusiakan manusia.

Pandemi bukan akhir. Pandemi bisa menjadi peluang jika kita memanfaatkan waktu untuk produktif secara kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus bisa memanfaatkan waktu di masa pandemi ini sebagai peluang untuk bereksplorasi sesuai bakat dan keterampilan masing-masing untuk meraih masa depan yang gemilang.

Khoirunnisa Ajeng Lathifa
Kelas XI EI SMK N 2 Wonosari

Jaga diri baik-baik!
Kita bukan virtual!
Kita ada, kita nyata!
Ini hanya soal waktu.